Recent Post

Powered by FeedBurner

Tampilkan postingan dengan label Jejak Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jejak Islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Februari 2019

Menelusuri Jejak Islam di Indonesia yang Berasal dari Azerbaijan

Nisan di Azerbaijan Tengah Foto: Muhammad Rusdil
Islam di Indonesia merupakan agama mayoritas yang dianut oleh penduduknya. Bahkan dunia internasional pun mengakui bahwa Indoensia sebagai negara muslim terbesar.
Namun, asal usul dan kapan Islam masuk ke Indonesia masih dalam perdebatan. Ada yang mengatakan, Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-6 dan abad ke-7 datang dari Timur-Tengah.
Ada pula yang berpendapat, Islam masuk ke bumi Nusantara sekitar abad ke-12 dan abad ke-13 datang dari Persia dan Timur-Tengah. Namun, ada sebuah hipotesis yang mengatakan, Islam datang ke Indonesia berasal dari wilayah Kaukasus atau Asia Tengah.
Pembaca kumparan lewat surat elektronik M Rusdil Fikri, mengirimkan sebuah laporan jurnalistiknya terkait asal muasal kedatangan Islam ke Indonesia dari wilayah Kaukasus tepatnya Azerbaijan.
Nisan di Azerbaijan Tengah Foto: Muhammad Rusdil
Bersama Dubes Indonesia untuk Azerbaijan Husnan Bey Fananie didampingi oleh Dosen dan peneliti dari FIB UI yang juga pakar studi Persia Bastian Zulyeno berhasil menemukan nisan kuno di daerah Sundu dan Maraza, Azerbaijan.
Nisan yang ditemukan tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-11 dan abad ke-12 yang bertempat di dua lokasi di Provinsi Azerbaijan Tengah. Menurut Bastian yang juga datang ke Azerbaijan bermaksud melakukan pre-riset, bahwa ada kemiripan nisan yang ada di Azerbaijan dengan nisan yang ada di Barus (Sumatera Utara) dan Aceh.
Nisan di Azerbaijan Tengah (Foto: Muhammad Rusdil
"Ini ada kemiripan sekali nisan-nisan di Barus dan Aceh dengan nisan yang kami temukan di Azerbeijan," ungkap Bastian ketika berada dilokasi penemuan nisan di Azerbaijan Tengah, (6/6).
Hal ini dikuatkan dengan pendapat Bastian yang mengatakan jika dilihat dari material culture, nisan-nisan tersebut memiliki inskripsi dan simbol - simbol sufi seperti sepatu dan lentera, syair-syair Persia yang biasa ditulis pada nisan, yang umumnya terdapat pada pemakaman tokoh sufi atau raja-raja. Begitu juga jika dilihat dari lokasi pemakaman yang ada di atas bukit.
Nisan di Azerbaijan Tengah (Foto: Muhammad Rusdil
Menurut Dubes RI untuk Azerbaijan, Husnan Bey Fananie, Islam pada masa periode perkenalan dan penyebaran, datang dari wilayah Kaukasus, khususnya Azerbaijan yang saat itu masuk dalam wilayah Persia raya.
"Hal ini menguatkan tentang gelombang kedatangan Islam di Indonesia, selain dari jazirah Arab juga dari wilayah kaukasus, Azerbaijan yang dibawa oleh para kaum sufi Asia Tengah yang memang tempat berkembang pesatnya gerakan tarekat," kata Husnan.
Nisan di Azerbaijan Tengah (Foto: Muhammad Rusdil
Husnan dan Bastian pun berharap jika penemuan awal ini dapat membuka riset lebih lanjut yang berkenaan dengan sejarah awal mulanya Islam datang ke Indonesia yang sampai hari ini masih bias informasinya. Khususnya hubungan antara Nusantara-Kaukasus (Azerbaijan).
Share:

Jumat, 08 Februari 2019

Hakikat Iman Kepada Allah


   Iman dari segi bahasa menurut banyak kalangan adalah membenarkan. Aku membenarkan dan aku beriman memiliki makna yang sama. Namun, pendapat ini tidak shahih. Yang benar, iman menurut bahasa adalah menetapkan sesuatu karena membenarkannya. Buktinya, kita sering berkata, “Aku beriman” atau “Aku menetapkan ini” atau “Aku membenarkan ini”, tapi kita tidak mengatakan, “Aku beriman kepada fulan”.

      Dengan demikian, iman mengandung makna yang lebih sempurna dari sekedar membenarkan. Iman adalah pengakuan dengan konsekuensi menerima berita dan tunduk pada hukum. Inilah iman, kalau sekedar kita beriman kepada Alla bahwa Allah itu ada, maka ini bukanlah iman. Akan tetapi iman haruslah berkonsekuensi dengan sikap menerima berita dan tunduk kepada hukum.

Beriman kepada Allah mencakup 4 perkara:
  1. Beriman kepada adanya Allah
  2. Beriman kepada rububiyah Allah, yaitu Dia-lah yang satu-satunya yang menyandang hak rububiyah (menciptakan, mengatur dan memberi rezeki kepada seluruh mahluk-Nya)
  3. Beriman kepada uluhiyah-Nya, yakni Dialah satu-satunya yang berhak diibadahi
  4. Beriman kepada asma dan sifat-Nya (nama dan sifat Allah)
     Barangsiapa yang tidak beriman kepada adanya Allah, maka dia bukanlah seorang mukmin. Siapa yang beriman kepada adanya Allah, tapi tidak beriman bahwa satu-satunya yang menyandang hak rububiyah adalah Allah, maka dia bukanlah seorang mukmin. Barangsiapa beriman bahwa satu-satunya pemilik rububiyah adalah Allah akan tetapi tidak beriman bahwa satu-satunya yang berhak diibadahi adalah Allah, maka ia bukan seorang mukmin. Barangsiapa yang beriman bahwa satu-satunya pemilik uluhiyah dan rububiyah adalah Allah, akan tetapi tidak beriman kepada asma dan sifat Allah, maka ia bukanlah seorang mukmin, meskipun yang terakhir ini bisa menghilangkan iman secara total, dan bisa pula hanya menghilangkan kesempurnaan iman.

    Disarikan dari terjemahan Syarah ‘Aqidah Wasithiyyah Lisyaikhil Islam Ibni Taimiyyah karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, Penerbit Darul Haq cetakan ke-6 tahun 2012 hal. 85-86.

Artikel Muslimah.or.id

Share:

Translate

tutorial Autocad